Mawar Putih Itu Milikmu (bagian satu)
Cerita ini muncul ketika serangkaian acara yang dihadiri oleh banyaknya mahasiwa di sebuah ruang pertemuan. Tak terlintas sebelumnya akan sesosok anak hawa yang mulai memanjakan mata. Tatapan mata yang sebenarnya tak pernah terjadi, namun terasa seperti sekilat cahaya yang menghantarkan pada pandangannya. Sejak saat itu mulailah keinginan untuk menjulurkan tangan dan bertegur sapa. Namun siapa aku, tak terbesit juga dibenaknya ada keinginan yang sama.
Hari demi hari berganti, memasuki bulan demi bulan berjalannya aktivitas mahasiswa di tempat itu. Terpancar banyak sekali potensi-potensi dari setiap mahasiswa. Mereka satu persatu mulai menunjukkan taringnya. Kemahiran cara berbicara, kritisnya argumen yang dilontarkan menandakan mereka bukanlah mahasiswa yang hanya datang untuk pulang. Disini aku mulai memahami bahwa ini arena memang disiapan untuk berperang.
Kami datang dari berbagai penjuru daerah di Nusantara, memiliki satu tujuan dan motivasi yang besar. Arena bergengsi yang diidamkan oleh sebanyak-banyaknya mahasiswa. Berbagai kegiatan yang kami lalui merupakan tempat yang cocok untuk mengeluarkan semua bakat yang kami miliki. Diantara kegiatan itu satu dua kesempatan pula aku ditemukan dengan anak hawa itu lagi.
Walaupun berasal dari unit yang berbeda, namun seakan pertemuan itu bisa direncanakan oleh Tuhan. Terlebih lagi teman satu hunianku yang juga berada disana. Memberikan sinyal yang kuat ketika ingin berkenalan dengannya. Dan lagi takdir bukan ditanganku, keinginan itu sirna dan tak pernah muncul kembali. Hingga pada akhirnya ku fokukan lagi menyelesaikan kegiatan ini.
Suatu pagi agenda kegiatan besar dilakukan dengan hadirnya seluruh mahasiswa disana. Acara itu dimulai seperti biasanya dengan disampaikannya materi oleh pembicara berpengaruh disana. Menurutku tak banyak yang bisa kulihat sebagai perkembangan wawasan selain hanya menyaksikan lembaran-lembaran ppt. Untaian kata-kata yang cukup sering kalian dengar dikala menonton "Mario Teguh". Menjadi asupan dalam kegiatan itu. Hanya segelintir pameteri yang menurutku memiliki pemikiran kritis dan straight to the poin.
Disela-sela waktu itu kamera mengarahkan pada sekelebat visual yang kukenal.
Siapakah Dia?
Komentar
Posting Komentar