Mawar Putih Itu Milikmu (bagian tiga)
Ruangan itu kini dipenuhi kami para mahasiswa dan juga dihadiri oleh tokoh-tokoh pejabat publik yang berpakaian dengan rapinya. Selangkah demi selangkah kami mulai memasuki ruangan dan mencari tempat duduk. Sungguh agenda yang melelahkan, sebab kami harus mulai kembali mendengarkan motivasi-motivasi jenaka dari mereka yang tampaknya tak melihat nominal sepuluh ribu disakunya.
Sebetulnya tak etis kita membicarakan ini, apalagi kita hanyalah tamu yang tak dirajakan. "sudah lupakan bualan itu". Berbicara mengenai materi hari ini, tampaknya kali ini sangat kental dengan pembahasan administratif politik. Hal yang cocok untuk kegiatan dialektis antar sesama mahasiswa dengan berbagai latar belakangnya.
Pandangan yang terlihat ialah mahasiswa dengan tempat duduk di setiap kursinya. Menunjukkan eksistensi almamater Universitas yang melekat ditubuhnya. Warna-warninya menghiasi seisi ruangan itu dengan cerahnya. Satu dua warna identik yang kukenal seakan menerawang bias mata ini dan tahu siapa pemiliknya.
" daftar hadir ini milik unit dia?, jadi hari ini kita satu kegiatan di sini?."
Sedikit gusar melihat penampilan yang tadinya sempat kulihat dipagi hari. Ini kali kedua aku melihatnya dihari yang sama dan dikegiatan yang sama pula. Tepat di hadapanku nampak jelas sesosok visual yang tadinya hanya sekilas muncul di layar monitor.
Tak perlu kupastikan lagi memang benar adanya visual itu orang yang selama ini selalu menjadi pusat perhatianku. Berpenampilan jilbab khas wanita muslimah, gamis panjang menutupi mata kaki, serta kacamata transparan yang menutupi lentik bulu matanya.
Disamping semangatnya pemantik materi itu, mata indahnya menatap lurus tepat dihadapanku memecahkan fokusku dan terdiam.
Komentar
Posting Komentar